Langsung ke konten utama

DIY YOUR WEDDING PARTEEH ....

 Agak telat memang postingan ini, kiranya setelah 9 bulan kami menikah, ernikahan kami terbilang cukup sederhana, semua konsep dari kami berdua pun dengan pertimbangan budget yang kami kumpulka. Berikut langkah-langkah yang kami siapkan. *catatan ini khusus untuk keluarga tidak rempong dan rumpita ala ala yaa

1. Kami menghitung segala biaya administrasi dan kelengkapan lalu kami bagi dua, pun dilanjutkan untuk membeli segala seserahan dan printilannya

2. Pemiluhan vendor dengan cermat, walaupun karena kami organize sendiri seperti decor dan beberapa meleset tapi sudahlah karena acara sudah terlewat juga

3. Mengingat point utama ada dalam makanan jadi sebisa mukin makanan yang enak dan jumlahnya tidak sisa

4. Dokumentasi pun sesuaikan dengan budgetmu apalagi punya teman yang baik bisa membantu, tidak usah menawar dengan harga teman pun kita sudah dapat best deal buat harga

5. Cetak undangan dan desain sendiri 

6. Souvenir sesuaikan dengan budget tapi jangan terlalu minimalis, kalau bisa kalian cari ide lalu dibuatkan di pengrajin hhhe

7. Tidak ada seragam seragam untuk keluarga besar, kami hanya menyiapkan untuk keluarga inti 

8. Kami mengadakan after party karena acara tersebut di atas khusus keluarga dan sederhana

9. After party kami dekor ulang dengan konsep kami, kami pilih makanan dan minuman yang lumayan dengan vendor dari teman-teman, mengingat sekarang semua mudah di tiru dan do it your self *aihhhhhh

10. Libatkan teman temanmu untuk membantu menjadi tim di bagian buku tamu, ataupun menjadi pengisi acara

11. Jangan lupa berterimakasih kepada seluruh yang membantu... !!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

patner baru

30 oktober 2016 Setelah beberapa bulan tidak menulis blog, saya memutuskan untuk menulis kembali. Yaaay bulan memasuki bulan November dan akhir tahun saya merasa bahagia meskipun sibuk dan menua. Kesedihan saya sudah hilang, dengan kata lain sekarang saya memiliki patner baru walaupun tidak berapa lama kemudian harus dipisahkan jarak, tapi apalah jarak tak lagi menjadi masalah. Masalah lain justru muncul seperti masalah-masalah sebelumnya, hal hal yang membuat saya insecure huhu, biasalah wanita cewek yang memasuki fase usia 27 setelah krisis seperempat abad dan memasuki krisis-krisis lainnya. Oke hal tersebut bisa di skip. Tapi masalah yang sama dengan orang yang berbeda membuat saya berpikir ulang jangan-jangan kesalahan ada dalam diri saya sendiri :’( Toh rencana tetaplah rencana, kita hanyalah manusia dan Tuhan yang menentukan J .. !! Selamat berakhir pekan.

kita cari uang

Ya saya tepat hampir enam bulan nganggur, tanpa penghasilan isinya main doang. Setiap pagi sehabis bangun tidur sekitar pukul 07.30 saya menyirami halaman juga beberapa tumbuhan dengan air sisa cucian, menjelang siang saya mandi. aktivitas sehari-hari di Rumah yaitu internetan dan tidur, kadang main dengan kawan lama. Kalau ditanya bosen atau tidak menganggur, tentu saya bosan. Saya tidak berpenghasilan sama sekali, hanya mengandalkan jula-beli barang bekas yang tidak seberapa, belum lagi akhir-akhir ini saya tidak jalan ke klithikan. Pasar klitikan yang biasanya saya kunjungi kabarnya terbakar. Mau dikata apa? Sosok teman saya semasa kuliah yang biasa-biasa saja, seperti malas mengerjakan tugaspun kini telah bekerja. Relasi antara pengangguran dan pekerja pun menjadi semakin menjauh.Teman saya yang sudah bekerja kini memandang saya (mungkin ini perasaan saya saja), seorang pengangguran yang mals-malasan dan tidak mau mencari pengalaman, nah di sisi lain mungkin juga beberapa teman se...

Axiety Tidak Kunjung Hilang

 Secara sadar saya telah mencoba untuk keluar dan mulai belajar self healing menghilangkan anxiety, menambah banyak pekerjaan, membaca buku, menulis, mendengarkan lagu, main game atau menonton youtube. Akan tetapi kondisi kesehatan fisik yang tidak memungkinkan untuk banyak gerak membuat saya biasa-biasa saja dan kembali lagi pada pikiran ketakutan, panik, dan cemas akan masa depan.  Bermula dari rasa kehilangan yang berulang, membuat saya tidak bisa berpikir jernih untuk menatap masa depan lebih baik, atau setidaknya berpikir semua orang berhak bahagia kok, kita saja belum. Teman dan keluarga pun menyadarkan saya untuk lebih mendekat ke agama atau lebih religius dalam beribadah, tapi ketenangan jiwa sendiri tidak saya temui disitu.  Ada satu kata-kata seorang Monk yang tidak sengaja saya baca di facebook, bahwa kesedihan itu bersifat sementara, kebahagiaan pun juga bersifat sementara, jadi bagaimana dengan diri kita menyikapinya.