Langsung ke konten utama

lagu yang diputar berulang

Kemarin sore tanpa sengaja hp saya memutar sebuah lagu yang cukup asing tapi enak di dengarkan. Mengapa lagu tersebut asing?, karena saya jujur belum pernah mendengarnya ehehhe. Lantunan lirik yang tidak begitu jelas diiringi petikan gitar akustik rasanya enak sekali. Seera music saya memang tidak terlalu bagus, hingga menggeneralisir semua musik atau lagu yang pas dengan kuping saya labeli “enak”, seperti melabeli sebuah kripik saja rasanya.
Dengan bermodalkan beberapa petikan lirik tersebut  saya memulai  mencari  judul lagu yang saya anggap enak itu, dan akhirnya saya temukan siapa penyanyi, judul, kapan rilis dan cover album yang menarik.
Lagu itu berjudul “ In the aeroplane over the sea”, Lagu ini merupakan lagu dari album kedua-nya Neutral Milk Hotel, salah satu band Indie Rock dari negeri Paman Sam. Lagu tersebut dirilis sudah lama, sekitar bulan Februari 1998 di Amerika Serikat oleh Merge Records  dan Bulan Mei di United Kingdom oleh Blue Rose Records.  
Lirik yan sendu diiring petikan akustik gitar menghanyutkan lagu ini, lirik yang mengingatkan kita akan ciptaan tuhan, kemudian kematian, meikmati hidup sebelum menemu ajal, sebuah imaji yang surreal dikemas dengan manis lewat lagu ini..
And one day we will die
And our ashes will fly from the aeroplane over the sea
But for now we are young
Let us lay in the sun
And count every beautiful thing we can see
Love to be
In the arms of all I'm keeping here with me
Bukan hanya liriknya yang menarik, tapi cover album sendiri yang merupakan hasil karya kolaborasi Magnum dan staff Desainer dari RAM, konon katanya desain cover ini mencerminkan rasa Jeff Magnum sendiri, menggambarkan kartu pos eropa pada jaman tahun 1945 Lebih jelasnya check siwiki    

Cover Album 
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

patner baru

30 oktober 2016 Setelah beberapa bulan tidak menulis blog, saya memutuskan untuk menulis kembali. Yaaay bulan memasuki bulan November dan akhir tahun saya merasa bahagia meskipun sibuk dan menua. Kesedihan saya sudah hilang, dengan kata lain sekarang saya memiliki patner baru walaupun tidak berapa lama kemudian harus dipisahkan jarak, tapi apalah jarak tak lagi menjadi masalah. Masalah lain justru muncul seperti masalah-masalah sebelumnya, hal hal yang membuat saya insecure huhu, biasalah wanita cewek yang memasuki fase usia 27 setelah krisis seperempat abad dan memasuki krisis-krisis lainnya. Oke hal tersebut bisa di skip. Tapi masalah yang sama dengan orang yang berbeda membuat saya berpikir ulang jangan-jangan kesalahan ada dalam diri saya sendiri :’( Toh rencana tetaplah rencana, kita hanyalah manusia dan Tuhan yang menentukan J .. !! Selamat berakhir pekan.

kita cari uang

Ya saya tepat hampir enam bulan nganggur, tanpa penghasilan isinya main doang. Setiap pagi sehabis bangun tidur sekitar pukul 07.30 saya menyirami halaman juga beberapa tumbuhan dengan air sisa cucian, menjelang siang saya mandi. aktivitas sehari-hari di Rumah yaitu internetan dan tidur, kadang main dengan kawan lama. Kalau ditanya bosen atau tidak menganggur, tentu saya bosan. Saya tidak berpenghasilan sama sekali, hanya mengandalkan jula-beli barang bekas yang tidak seberapa, belum lagi akhir-akhir ini saya tidak jalan ke klithikan. Pasar klitikan yang biasanya saya kunjungi kabarnya terbakar. Mau dikata apa? Sosok teman saya semasa kuliah yang biasa-biasa saja, seperti malas mengerjakan tugaspun kini telah bekerja. Relasi antara pengangguran dan pekerja pun menjadi semakin menjauh.Teman saya yang sudah bekerja kini memandang saya (mungkin ini perasaan saya saja), seorang pengangguran yang mals-malasan dan tidak mau mencari pengalaman, nah di sisi lain mungkin juga beberapa teman se...

Axiety Tidak Kunjung Hilang

 Secara sadar saya telah mencoba untuk keluar dan mulai belajar self healing menghilangkan anxiety, menambah banyak pekerjaan, membaca buku, menulis, mendengarkan lagu, main game atau menonton youtube. Akan tetapi kondisi kesehatan fisik yang tidak memungkinkan untuk banyak gerak membuat saya biasa-biasa saja dan kembali lagi pada pikiran ketakutan, panik, dan cemas akan masa depan.  Bermula dari rasa kehilangan yang berulang, membuat saya tidak bisa berpikir jernih untuk menatap masa depan lebih baik, atau setidaknya berpikir semua orang berhak bahagia kok, kita saja belum. Teman dan keluarga pun menyadarkan saya untuk lebih mendekat ke agama atau lebih religius dalam beribadah, tapi ketenangan jiwa sendiri tidak saya temui disitu.  Ada satu kata-kata seorang Monk yang tidak sengaja saya baca di facebook, bahwa kesedihan itu bersifat sementara, kebahagiaan pun juga bersifat sementara, jadi bagaimana dengan diri kita menyikapinya.