Langsung ke konten utama

pergi

Semoga saja postingan ini adalah postingan saya yang pertama dan terkahkhir yang agak sentimental alias menye-menye (semoga)
Rasanya ingin berlari, pergi, menjauh dari kamu, aku pun tahu kamu orang baik, kamu pasti membebaskan pula keingian  setiap orang, seperti yang selalu kamu ceritakan, kalau manusia di dunia itu tidak boleh tertindas. Kamu ingat, aku pernah cerita ada sebuah kalimat yang cukup sederhana namun menarik . " Bukankah setiap orang berhak atas kebahagiaannya masing-masing". Kata itupun berulang kali aku ucapkan (waktu itu) dan kamu tentu mendengar dan ingat, aku yakin itu. 
Selama ini kita baik-baik saja, setelah perpisahan itu, dan kamu yang lebih bahagia dengan keputusanmu. Mungkin saja kamu melihat pertemanan kita baik - baik saja, seperti sahabat lama yang tidak pernah ada suatu masalah, mungkin itu yang kamu pikirkan. Di sisi lain aku belajar sabar, mencoba berbicara dengan diri sendiri, di anggap bodoh teman-teman sekitar, merasa menipu  diri sendiri agar terlihat baik-baik saja, dan tentu bisa menerima kamu sebagai teman setidaknya selama hampir setahun belakangan ini.
Setelah kita berpisah pun aku melihat kamu (lebih) bahagia, dibandingkan waktu denganku dulu, kamu seperti kembali hidup, kembali dengan jalanmu yang lama, kembali dengan kehidupan yang kamu inginkan. Aku pun tidak menganggumu. Dari jauh pun aku mengamati dan berkata dalam hati "itulah yang kamu inginkan, aku ikhlas dan akan pergi". Karena waktu dan karena kebiasaan yang lama dan melekat, aku  masih berharap dan sakit hati (tentu saja). Aku biarkan kamu bahagia dengan apa yang kamu pilih.
Waktu dapat menghapus pahit, harapan, cinta, dan rasa, semuanya bisa tergerus oleh waktu, luntur oleh guyuran hujan, dan kabur mengikuti tiupan angin. Dan akupun menyadari kalau cinta pun ada masa berlakunya juga, namun berbeda dengan kesedihanku yang enggan hilang ini. Entah kesedihan untuk apa, tangisan untuk apa, perasaan tidak tenang untuk apa, terganjal untuk apa. Aku mulai menanyakan hal itu, malam hari sebelum tidur hingga bangun aku masih berpikir bagaimana kalau aku lari (dari kamu) saja.
Akupun mencoba lari (berulang kali), menangis sendiri dan kembali memafaakan, mungkin kita ditakdirkan untuk menjadi sahabat, saling berbagi dan mengisi tanpa ada cinta. Bahkan akupun juga percaya bahwa Tuhan memiliki rencana dalam hal sekecil apapun. Akupun tak bisa menolak kuasa Tuhan yang mempertemukan kita hingga akhirnya kita terpisah. Bukan masalah perpisahan yang mendadak atau aku belum siap, perpisahan yang sudah lama itu dan aku mencoba lari tapi belum bisa (kamu halangi), sekali lagi aku kesal dengan hidupku, aku salah mengelola persaanku sendiri.  Semesta yang mennetukan perjumpaan kita, aku juga tidak bermaksud mengakhirinya, tetapi bukankah semua sudah berakhir sejak lama, kamu yang memilih untuk berpisah dan memilih hidup lebih bahagia seperti yang kamu inginkan. Aku saja yang terlalu bodoh menunggu hampir setahun dengan menipu perasaan.
Setidaknya kamu pernah berkata, kita tetap bisa menjadi teman, tapi di sisi lain kamu tidak tahu bagaimana caraku mengalahkan perasaan, dari cinta menjadi ikhlas, dari cemburu menjadi biasa saja, dari peduli menjadi tidak peduli, dari meminta perhatian hingga aku tahu itu sudah tidak ada. Diam terlihat bodoh dan tidak tahu, seperti bukan manusia, bukan pula sebuah benda yang memiliki persaan (mungkin kamu berpikir demikian).
Aku melepasmu dengan pilihanmu, yang tentunya kamu lebih bahagia ketika memilih itu. Sekali lagi ingatlah kata-kata sederhana itu bahwa "setiap orang berhak atas kebahagiaan masing-masing", aku menghargai itu. Kamu pun bukan orag bodoh atau anak kecil yang tidak memiliki pertimbangan akan segala keputusanmu. Sebaliknya kamu pasti juga tahu setiap orang bisa memiliki keputusan, dalam waktu singkat atau panjang.
Saat aku memutuskan untuk lari, mungkin ini waktunya, memilih kebahagiaanku (setidaknya demikian), waktu  bisa berganti demikian pula setiap orang juga berhak untuk berlari menuju jalan lain. Jangan memperlambat, kamu pun boleh berlari sejauh dan sesukamu. 





Komentar

Postingan populer dari blog ini

patner baru

30 oktober 2016 Setelah beberapa bulan tidak menulis blog, saya memutuskan untuk menulis kembali. Yaaay bulan memasuki bulan November dan akhir tahun saya merasa bahagia meskipun sibuk dan menua. Kesedihan saya sudah hilang, dengan kata lain sekarang saya memiliki patner baru walaupun tidak berapa lama kemudian harus dipisahkan jarak, tapi apalah jarak tak lagi menjadi masalah. Masalah lain justru muncul seperti masalah-masalah sebelumnya, hal hal yang membuat saya insecure huhu, biasalah wanita cewek yang memasuki fase usia 27 setelah krisis seperempat abad dan memasuki krisis-krisis lainnya. Oke hal tersebut bisa di skip. Tapi masalah yang sama dengan orang yang berbeda membuat saya berpikir ulang jangan-jangan kesalahan ada dalam diri saya sendiri :’( Toh rencana tetaplah rencana, kita hanyalah manusia dan Tuhan yang menentukan J .. !! Selamat berakhir pekan.

kita cari uang

Ya saya tepat hampir enam bulan nganggur, tanpa penghasilan isinya main doang. Setiap pagi sehabis bangun tidur sekitar pukul 07.30 saya menyirami halaman juga beberapa tumbuhan dengan air sisa cucian, menjelang siang saya mandi. aktivitas sehari-hari di Rumah yaitu internetan dan tidur, kadang main dengan kawan lama. Kalau ditanya bosen atau tidak menganggur, tentu saya bosan. Saya tidak berpenghasilan sama sekali, hanya mengandalkan jula-beli barang bekas yang tidak seberapa, belum lagi akhir-akhir ini saya tidak jalan ke klithikan. Pasar klitikan yang biasanya saya kunjungi kabarnya terbakar. Mau dikata apa? Sosok teman saya semasa kuliah yang biasa-biasa saja, seperti malas mengerjakan tugaspun kini telah bekerja. Relasi antara pengangguran dan pekerja pun menjadi semakin menjauh.Teman saya yang sudah bekerja kini memandang saya (mungkin ini perasaan saya saja), seorang pengangguran yang mals-malasan dan tidak mau mencari pengalaman, nah di sisi lain mungkin juga beberapa teman se...

Axiety Tidak Kunjung Hilang

 Secara sadar saya telah mencoba untuk keluar dan mulai belajar self healing menghilangkan anxiety, menambah banyak pekerjaan, membaca buku, menulis, mendengarkan lagu, main game atau menonton youtube. Akan tetapi kondisi kesehatan fisik yang tidak memungkinkan untuk banyak gerak membuat saya biasa-biasa saja dan kembali lagi pada pikiran ketakutan, panik, dan cemas akan masa depan.  Bermula dari rasa kehilangan yang berulang, membuat saya tidak bisa berpikir jernih untuk menatap masa depan lebih baik, atau setidaknya berpikir semua orang berhak bahagia kok, kita saja belum. Teman dan keluarga pun menyadarkan saya untuk lebih mendekat ke agama atau lebih religius dalam beribadah, tapi ketenangan jiwa sendiri tidak saya temui disitu.  Ada satu kata-kata seorang Monk yang tidak sengaja saya baca di facebook, bahwa kesedihan itu bersifat sementara, kebahagiaan pun juga bersifat sementara, jadi bagaimana dengan diri kita menyikapinya.