Langsung ke konten utama

selain buah lokal cintailah musik lokal

Hari ini saya bangun pagi seikit pusing di tambah demam yang tidak tau apa sebabnya, anggap saja memang ini musimnya orang sakit. Laptop yang rusak saya makismalkan untuk memutar lagu-lagu dari vlc player saya, jujur saya sudah bosen dengan playlist dan lagu di laptop, tetapi apa daya tidak bisa mendownload *hemat kuota beeb*, mau strimingan pun juga masih sayang-sayang pulsanya.. hihihii
Setelah melamar pekerjaan di sebuah bank swasta, berharap internet dini hari memberikan kekuatan super cepat, saya pun berhasil mengunggah profil saya di web bank tersebut *bismillah
Kegiatan saya hari ini yang rencananya menata tanaman, tetapi saya urungkan karena mendung, hujan dan bada saya yang tidak enak ini sedang senang-nya untuk malas-malasan.
kebosanan saya ini menggiring saya untuk kepo ke net-net label lokal, yang secara langsung bisa di striming, lumayan menarik dengan artikel bahasa khas anak muda. Saya mulai berselancar *buset bahasanya ini, ke beberapa situs recods indie, ya meskipun tidak begitu paham tema lagu, aih aih bisa mengerti maskud lyricnya , dengerin samapi tuntas saja saya belum khatam.
Okelah saya mulai beberapa hari ini meng-kepo situs-situs tersebut, juga riset saya nanti secara diam-diam, misalkan saja nanti-nanti saya ada project yang butuh atau berhubungan dengan hal tersebut.
Saya baru ngeh, merchandise yang di jual cukup lucu dan tidak begitu mahal. Kalau ada rejeki saya akan beli merchandise band loka, selain untuk kenang-kenangan juga bisa mendukung mereka buat tetep eksis *lhooh

Meskipun klise peryataan akan mendukung musik lokal sampai buah-buahan lokal, atau memajukan industri kreatif dalam negeri seperti kampanye presiden *lhooh* tapi gak salah lah kita beli rilisan mereka yang berbau kebule-bulean :P 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

patner baru

30 oktober 2016 Setelah beberapa bulan tidak menulis blog, saya memutuskan untuk menulis kembali. Yaaay bulan memasuki bulan November dan akhir tahun saya merasa bahagia meskipun sibuk dan menua. Kesedihan saya sudah hilang, dengan kata lain sekarang saya memiliki patner baru walaupun tidak berapa lama kemudian harus dipisahkan jarak, tapi apalah jarak tak lagi menjadi masalah. Masalah lain justru muncul seperti masalah-masalah sebelumnya, hal hal yang membuat saya insecure huhu, biasalah wanita cewek yang memasuki fase usia 27 setelah krisis seperempat abad dan memasuki krisis-krisis lainnya. Oke hal tersebut bisa di skip. Tapi masalah yang sama dengan orang yang berbeda membuat saya berpikir ulang jangan-jangan kesalahan ada dalam diri saya sendiri :’( Toh rencana tetaplah rencana, kita hanyalah manusia dan Tuhan yang menentukan J .. !! Selamat berakhir pekan.

kita cari uang

Ya saya tepat hampir enam bulan nganggur, tanpa penghasilan isinya main doang. Setiap pagi sehabis bangun tidur sekitar pukul 07.30 saya menyirami halaman juga beberapa tumbuhan dengan air sisa cucian, menjelang siang saya mandi. aktivitas sehari-hari di Rumah yaitu internetan dan tidur, kadang main dengan kawan lama. Kalau ditanya bosen atau tidak menganggur, tentu saya bosan. Saya tidak berpenghasilan sama sekali, hanya mengandalkan jula-beli barang bekas yang tidak seberapa, belum lagi akhir-akhir ini saya tidak jalan ke klithikan. Pasar klitikan yang biasanya saya kunjungi kabarnya terbakar. Mau dikata apa? Sosok teman saya semasa kuliah yang biasa-biasa saja, seperti malas mengerjakan tugaspun kini telah bekerja. Relasi antara pengangguran dan pekerja pun menjadi semakin menjauh.Teman saya yang sudah bekerja kini memandang saya (mungkin ini perasaan saya saja), seorang pengangguran yang mals-malasan dan tidak mau mencari pengalaman, nah di sisi lain mungkin juga beberapa teman se...

Axiety Tidak Kunjung Hilang

 Secara sadar saya telah mencoba untuk keluar dan mulai belajar self healing menghilangkan anxiety, menambah banyak pekerjaan, membaca buku, menulis, mendengarkan lagu, main game atau menonton youtube. Akan tetapi kondisi kesehatan fisik yang tidak memungkinkan untuk banyak gerak membuat saya biasa-biasa saja dan kembali lagi pada pikiran ketakutan, panik, dan cemas akan masa depan.  Bermula dari rasa kehilangan yang berulang, membuat saya tidak bisa berpikir jernih untuk menatap masa depan lebih baik, atau setidaknya berpikir semua orang berhak bahagia kok, kita saja belum. Teman dan keluarga pun menyadarkan saya untuk lebih mendekat ke agama atau lebih religius dalam beribadah, tapi ketenangan jiwa sendiri tidak saya temui disitu.  Ada satu kata-kata seorang Monk yang tidak sengaja saya baca di facebook, bahwa kesedihan itu bersifat sementara, kebahagiaan pun juga bersifat sementara, jadi bagaimana dengan diri kita menyikapinya.