Langsung ke konten utama

Postingan

jurnal bahagia

Saya sudah absen menulis kira-kira sejak bulan agustus tahun lalu, kalau dihitung sampai saat ini sudah delapan bulan tidak menulis. Disibukan oleh urusan pekerjaan dan companionship saya jadi malas membaca dan menulis, ah tidak produktif sekali rasanya. Bulan April yang baru saja awal ternyata sudah mendekati pertengahan, lamunan saya beberapa hari yang lalu mengapa akhir-akhir ini saya lebih bahagia hingga pertambahan berat badan yang tak terukur lagi. Satu hal yang pasti saya lebih bahagia saat ini. Kebahagiaan saya tidak dapat didefinisikan, saya sudah jarang murung atau bersedih, berpikir berat, saya merasa ringan tidak ada yang terpikirkan. Sedih-sedih bahagia, ah sialan. Dari kebahagiaan itulah saya tarik kesimpulan apakah saya sudah terlalu egois dan self centered sehingga saya abai dengan lingkungan dan sekitar. Merasa bahagia atas diri sendiri dan tidak memperdulikan yang lain? atau jangan - jangan semua orang berhak atas kebahagiaannya masing-masing. Tapi kegiatan saya ak...

nona atau nyonya di rumah sakit

Hari ini saya mengantarkan kawan, Titi namanya. Titi mengalami  sakit saat datang bulan, ia pernah berobat di Rumah Sakit Bethesda, duku mendapatkan vonis seperti myom. Pengobatan yang bisa dilakukan untuk Titi ialah menikah terlebih dahulu, setelah itu baru bisa di tindak lanjuti.

Maju Ke Depan (II)

Menyambung tulisan sebelumnya untuk maju kedepan, saya mulai merubah kegiatan-kegiatan untuk hal positif ke depan. Saya mulai membuat list lagi semangat, membuat daftar kegiatan jalan-jalan sendiri atau datang ke konser di luar kota. Aslinya ini tidak lebih dari sekedar eskapisme

27

Memang benar semakin bertambah usia membuat wanita lebih insecure, contohnya saya sendiri Usia 27 dimana kita benar-benar jungkir balik rasanya dan mengambil keputusan terbaik untuk kedepan. Take it or Leave it dan saya memilih Leave it. Jangan takut untuk berjalan kedepan meskipun terseok seok, toh dari itu kita belajar untuk lebih berani berjalan dengan tegap..

jakarta sore itu

Jakarta sore itu, di stasiun gambir setelah mengantar seorang kawan pulang ke daerah asal kami, saya menunggu kamu yang katanya akan menyususul. Lima belas menit duduk di ruang tunggu depan toilet yang tak jauh dari restaurant cepat saji. Beberapahari sebelumnya memang kami terlibat dalam sebuah obrolan dan kamu menyuruhku ke kotamu. Entah kebeteluan yang tidak sengaja saya dpata tugas untuk ke Jakarta. Sore itu sepulang kerja dan pesan singkat yang kamu kirim kita berjanji utuk bertemu di sebuah restaurant cepat saji, kamu masih mengenakan seragam kantor baju putih digulung lengannya dan membawa peralatan kerja.  Kamu lapar dan ingin dan  belum makan sedari pagi katamu, pesanan dua pack ayam dengan bonus mainan pun kami terima. Entah apa yang kami bincangkan di restaurant cepat saji stasiun itu tapi kami bersepakat untuk pindah tepat.  Menyusuri sebuah kota dan tanpa diminta kamu menjelaskan satu persatu bangunan, jalan dan gedung lain yang kami lewati. Saat itu k...

antara sedih dan pilek menjadi satu

Ada yang bilang jarak sebenarnya ialah bukan jarak yang terukur oleh kilometer, dan ada pula yang berkata lamanya waktu bukan terhitung oleh hari yang terlewati. Sekali lagi jenuh itu ada dan pasti tidak dapat dipungkiri, enam bulan bukan waktu yang sedikit jika kamu benar-benar tak ingin buang waktu, enam bulan bukan pula waktu singkat untuk mengenal seseorang, tapi kembali lagi bukan perkara soal waktu. Tetiba awal-awal saya menulis ini menangis tanpa lasan, setelah menyedot habis ingus dan hilang pula kesedihan bersama ingus di tissue. Dan setidaknya saya sudah bosan menuliskan kisah percintaan remeh-temeh. Toh sama saja beda orang sengan masalah sama.. berharap akhir tahun ini bisa memiliki kisah cinta baru .. ah semoga saja J

bersyukur dalam kesederhanaan

Kalau apa yang kita baca mempengaruhi kepribadian kita, saya mengamininya. Sudah beberapa bulan mungkin setahun ini saya kurang membaca, pertama karena malas kedua karena saya kehilangan teman diskusi. sehari-hari saya menghabiskan waktu di kantor, tidur, dan bermain hp. Di waktu senggang keluar kota untuk mendapatkan hiburan, dan yang terpenting tidk kalah menarik ialah dapat membereskan segala pekerjaan rumah seperti mencuci, menyetrika dan memasak sendiri.   Beruntung saya lahir di keluarga biasa-biasa saja mungkin malah bisa dibilang kekurangan tapi di sisi lain saya belajar banyak untuk mengerjakan sesuatu sendiri, tanpa bantuan orang lain. Aktivitas saya yang mulai rajin ini*ceilah* membuat saya sedikit kurusan hehehe, asikk setidaknya karena saya yang malas berolah raga ini bisa teratasi dengan kegiatan sehari-hari.   Selalu bersyukur dalam kesederhanaan